Dalam balap motor, kemampuan pembalap untuk bergerak bebas di atas kendaraannya bukan hanya soal kenyamanan, melainkan kebutuhan taktis. IMI Kalsel menekankan bahwa tingkat mobilitas yang tinggi memungkinkan pembalap untuk berpindah posisi dengan cepat guna menggeser titik berat motor saat melibas tikungan tajam. Lincah dalam bermanuver berarti kemampuan untuk merespons dinamika sasis motor yang berubah-ubah secara instan, yang pada akhirnya memberikan kestabilan lebih baik di kecepatan tinggi.
Di sirkuit, posisi tubuh menentukan bagaimana tenaga disalurkan ke ban. Atas dasar itulah, program latihan yang disusun oleh IMI Kalsel fokus pada peningkatan fleksibilitas sendi, terutama di area panggul, punggung, dan pergelangan kaki. Fleksibilitas bukan sekadar kemampuan untuk melakukan peregangan ekstrem, melainkan kemampuan untuk mencapai posisi tubuh yang optimal dengan usaha minimal. Jika tubuh kaku, otot akan lebih cepat kelelahan, dan aliran darah ke otot menjadi terhambat, yang berakibat pada penurunan performa.
Motor masa kini didesain sangat kompetitif, menuntut pembalap untuk “menempel” pada mesin saat pengereman dan mengeluarkan tubuh saat menikung. Latihan yang diberikan oleh IMI Kalsel meliputi serangkaian gerakan yoga khusus balap dan latihan mobilitas fungsional. Latihan ini membantu memperpanjang serat otot sehingga pembalap bisa bergerak dengan luwes tanpa hambatan. Bayangkan seorang pembalap yang mampu menggeser pusat gravitasinya dengan mulus dalam hitungan milidetik; ini adalah keunggulan yang bisa memangkas waktu putaran secara signifikan.
Selain itu, fleksibilitas juga berperan besar dalam pencegahan cedera. Saat terjadi guncangan atau bahkan high-side yang kecil, tubuh yang fleksibel cenderung mampu meredam dampak energi kinetik dengan lebih baik dibandingkan tubuh yang kaku. Sendi yang terlatih untuk bergerak dalam rentang penuh lebih jarang mengalami dislokasi atau robekan ligamen. Ini adalah alasan mengapa fleksibilitas dikategorikan sebagai salah satu pilar utama dalam pelatihan fisik atlet otomotif yang modern dan profesional.
Pelatihan ini juga melibatkan simulasi posisi di atas motor. Pembalap diajak melakukan gerakan body-positioning sambil melakukan pemanasan intensif. Dengan melakukan ini, mereka tidak hanya melatih otot, tetapi juga melatih otak untuk mengenali batas gerak yang optimal. Saat berada di sirkuit, pembalap tidak perlu lagi berpikir “bagaimana saya harus duduk”, karena memori otot telah terbentuk melalui latihan fleksibilitas yang konsisten. Mereka menjadi satu kesatuan dengan mesin, bereaksi secara naluriah terhadap setiap perubahan traksi di aspal.
