Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang pembalap muda Kalsel yang menghabiskan waktu luangnya di sebuah bengkel kecil milik kerabatnya. Berbeda dengan pembalap dari tim pabrikan yang memiliki suku cadang melimpah, ia harus memutar otak untuk memodifikasi mesinnya. Sering kali ia menggunakan komponen bekas yang masih layak pakai atau melakukan kanibalisasi dari mesin motor lain. Baginya, setiap komponen adalah berharga. Keahliannya dalam memahami karakter mesin secara otodidak justru membuatnya memiliki ikatan batin yang kuat dengan kendaraan tunggangannya, sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh pembalap yang hanya tahu mengendarai.
Menjalani perjuangan di dunia balap dengan modal pas-pasan tentu mendatangkan banyak cibiran. Sering kali ia harus berangkat ke lokasi balapan dengan memboncengkan motor balapnya di atas motor lain atau menggunakan mobil pick-up tua pinjaman. Namun, saat helm sudah terpasang dan lampu hijau menyala, semua keterbatasan itu hilang. Ia membuktikan bahwa di atas sirkuit, yang berbicara adalah teknik pengereman yang berani dan insting dalam mengambil celah di tikungan. Ketulusannya dalam menekuni hobi ini membuat banyak orang di komunitas otomotif Kalimantan Selatan mulai melirik dan memberikan dukungan moril.
Bertanding dengan alat seadanya bukan berarti ia bisa diremehkan. Justru karena keterbatasan itulah, ia belajar untuk menjadi pembalap yang lebih efisien dan teliti. Ia harus memastikan setiap tetes bensin dan kondisi ban benar-benar optimal karena ia tidak memiliki kesempatan kedua jika terjadi kesalahan teknis akibat kelalaian. Disiplin mental yang ia bangun dari keterbatasan ekonomi ini menjadikannya pribadi yang sangat tangguh. Di setiap seri balapan, ia selalu menjadi kuda hitam yang mampu merepotkan para pembalap muda Kalsel dari tim besar yang didukung oleh perlengkapan serba mewah dan tim mekanik profesional.
Dukungan dari keluarga dan teman-teman sebengkel menjadi bahan bakar utama bagi semangatnya. Mereka sering kali melakukan penggalangan dana kecil-kecilan hanya untuk sekadar membelikan ban baru atau biaya pendaftaran balapan. Solidaritas komunitas lokal di Kalimantan Selatan ini menunjukkan bahwa semangat kekeluargaan masih sangat kental di dunia otomotif daerah. Mereka semua bermimpi bahwa suatu saat nanti, anak muda dari desa mereka bisa berdiri di podium tertinggi di tingkat nasional, membuktikan bahwa bakat sejati bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang paling minim fasilitas sekalipun.
