Gerak Melambat Kendaraan Elektrik: Meski Kredit Otomotif Meningkat, Pangsa Pasar EV Tetap Kecil

Di tahun 2025, pasar otomotif Indonesia menunjukkan fenomena yang kontradiktif: sementara kredit otomotif secara keseluruhan terus meningkat, adopsi kendaraan elektrik (EV) masih bergerak melambat, dengan pangsa pasar yang tetap kecil. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas berbagai insentif dan strategi yang telah dicanangkan untuk mendorong transisi energi di sektor transportasi. Mengapa kendaraan elektrik belum mampu bersaing di pasar pembiayaan, padahal minat global terhadapnya kian menguat?

Gerak melambatnya kendaraan elektrik dalam hal pembiayaan ini terlihat jelas dari data terbaru. Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 31 Mei 2025, pembiayaan untuk EV hanya mencapai sekitar 1,3% dari total portofolio kredit otomotif, angka yang nyaris tidak berubah dari tahun sebelumnya. Bapak Fikri Haikal, Analis Pasar Otomotif dari Pusat Studi Ekonomi Transportasi, dalam sebuah diskusi panel di Jakarta pada hari Rabu, 18 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, menyatakan, “Meski ada peningkatan kesadaran lingkungan, konsumen masih ragu membiayai kendaraan elektrik karena harga awal yang tinggi dan infrastruktur yang belum merata.”

Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mencatat bahwa total penyaluran kredit untuk kendaraan bermotor konvensional tumbuh sekitar 17% pada kuartal pertama tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bapak Hendra Wijaya, Direktur Eksekutif APPI, dalam rilis pers pada tanggal 12 Juni 2025, menyoroti bahwa “pasar konvensional masih sangat kuat dengan beragam penawaran menarik dari dealer dan kemudahan akses pembiayaan.” Kontras ini semakin memperlihatkan tantangan yang dihadapi kendaraan elektrik.

Beberapa faktor kunci berkontribusi pada kecilnya pangsa pasar kendaraan elektrik dalam ranah pembiayaan. Pertama, harga jual EV yang lebih mahal dibandingkan dengan kendaraan konvensional menjadi batu sandungan utama bagi sebagian besar konsumen ritel. Kedua, kekhawatiran akan ketersediaan stasiun pengisian daya publik dan waktu pengisian yang relatif lama masih menjadi pertimbangan. Ketiga, nilai jual kembali baterai dan resale value EV secara keseluruhan masih belum sepenuhnya stabil, menimbulkan kehati-hatian di kalangan lembaga pembiayaan. Keempat, meski ada insentif, jangkauannya belum cukup luas untuk benar-benar mendongkrak penjualan ritel secara signifikan.

Untuk mengatasi gerak melambat ini, diperlukan upaya kolaboratif yang lebih intensif dari pemerintah, produsen, dan lembaga pembiayaan. Skema kredit yang lebih inovatif dan terjangkau, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta kampanye edukasi yang masif tentang manfaat jangka panjang EV adalah langkah-langkah krusial yang harus dilakukan di tahun 2025 untuk mendorong adopsi kendaraan elektrik menjadi arus utama di pasar otomotif.